4.10.10

Kehidupan Bagaikan Jeruk

Dalam cerita film Forrest Gump, ibu Gump mengatakan padanya bahwa kehidupan manusia bagaikan sekotak coklat, Anda tidak tahu bakal mendapatkan rasa yang mana. Saya pikir, sekotak coklat itu pasti berisi aneka rasa! Karena setahu saya kebanyakan orang akan memilih rasa yang disukai saat membeli, bagaimana dengan Anda?

Guru Lin Guizhen menulis sebuah buku yang berjudul Kehidupan Bagaikan Jeruk. Saya sangat mengemari buku tersebut, lalu saya menjulukinya dengan sebutan “Guru Jeruk”. Di bawah ini mengutip beberapa bagian dalam buku tersebut untuk kita simak:

“Kehidupan bagaikan jeruk”, Anda sendiri yang menentukan nasib Anda, seperti saat memutuskan memilih jeruk, setelah dibeli manis atau masam harus Anda tanggung sendiri. Bukankah begitu? Jeruk sudah dibeli manis atau masam harus ditanggung sendiri, mengapa harus menyalahkan?

“Kehidupan bagaikan jeruk”, kehilangan kesehatan bagaikan jeruk yang sudah berubah rasa, bisa jadi akan menimpa diri sendiri, juga mungkin terjadi pada diri teman kita. Kehidupan bagaikan jeruk, jika sudah tiba “waktunya, cepat atau lambat akan berubah rasa, “kehidupan” yang kita miliki hanyalah saat dia belum mengalami perubahan rasa.”

“Kehidupan bagaikan jeruk”, satu buah jeruk kupas, belum tentu keseluruhannya manis, kadang juga ada yang masam, tetapi untuk mengetahui manis ataupun masam harus kita sendiri yang mencoba baru bisa tahu rasanya.

“Kehidupan bagaikan jeruk”, terlalu masam juga tidak enak dimakan, terlalu manis juga bisa bosan, dengan bisa merasakan manis dan masam, barulah kehidupan manusia yang sebenarnya!

“Kehidupan bagaikan jeruk”, sepanjang kehidupan yang kita jalani, apakah harus menunggu kehidupan ini mendekat ke titik akhir dari hidup, baru bisa benar-benar menyadari apakah jeruk tersebut lebih banyak masam daripada manis? Ataukah manis lebih banyak daripada masam? Mungkin beginilah yang disebut sebagai makna yang hakiki dari kehidupan!

”Kehidupan bagaikan jeruk”, masalah selalu terjadi silih berganti, rasanya masam ataukah manis hanya diri kita sendiri yang memutuskan.

Kehidupan bagaikan jeruk”, Sepertinya kehidupan manusia ini tidak perlu harus mempunyai aturan main yang tetap, mana ada jawaban dari kehidupan? Jika kehidupan hanya seperti sebutir jeruk, maka jeruk itu jika disimpan terlalu lama bukankah akan menjadi rusak? Mengapa tidak memakan dan merasakannya sewaktu jeruk itu masih segar?

Sebenarnya hidup ini melalui episode demi episode, tetapi jika dikumpulkan menjadi satu adalah kehidupan manusia. Persis seperti halnya sebutir jeruk, dalamnya terdiri dari lapis demi lapis yang melingkar dan membentuk menjadi satu buah jeruk

Maniskah jeruk Anda? Masamkah jeruk saya? Rasanya bagaimana hanya bisa terjawab oleh diri kita sendiri.

”Kehidupan bagaikan jeruk”, persis seperti ketika Anda membeli sebutir jeruk, majikan yang berhati baik lalu memberi tambahan sebutir buah pir kepada Anda, agak di luar dugaan dan merasa sedikit terheran-heran. Hidup ini sungguh menakjubkan, jika belum sampai sisa nafas yang terakhir, Anda benar-benar tidak bisa mengetahui sebelumnya apa rasa sesungguhnya dari jeruk itu?

Setiap orang hanya memiliki sebutir jeruk kehidupan, dimakan luar biasa enaknya, lebih-lebih mempunyai perasaan yang khas, maka Anda harus berlaku seperti petani buah yang telah mencurahkan pikiran dan tenaga berlipat ganda. Seperti halnya saat menjaga serta melindungi anak kecil, jeruk yang sudah ditambah dengan kasih dalam hati, jika dicicipi sudah pasti rasanya luar biasa enak tiada tara.

taken from
http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/16932-kehidupan-bagaikan-jeruk

No comments: